wajar
wajar jika aku mengeluh,
karena aku tak pernah berusaha. mencari cara pun rasanya tidak. malahan berjalan ke arah sebaliknya.
wajar jika aku menangis.
karena semua orang tak pernah ku datangi. meminta sepatah katapun tak terpikirkan. bertumpu dikasur sembari merenung itu iya.
wajar jika aku kalah.
berlari ke garis finish pun tak pernah. menyusuri langkah-langkahnya pun sia. hanya dapat mengekor pada penolak takdir.
wajar jika aku susah.
mendengar petuahpun aku tutup telinga. diajak melompat aku malah merayap. tak ada kemudahan yang dapat diterima oleh seorang pengecut.
aku bocah enam belas usianya. belagu sekali sok bisa. berpura-pura dewasa, nyatanya tiada. tuan berkata, ikuti sang tua, melepas rehat menuju sang cita. hamba malah bersahaja diatas ranjang milik ibu-bapak.
aku membangkang pada tiap garis hidup, meloncati irama yang mulanya indah, membentuk melodi-melodi fals yang menyiksa pendengaran. aku bocah yang perangainya masih saja bocah.
hingga pada suatu masa, mentari terbit dihias alunan nyanyi burung dan suara embun yang jatuh ke lapak tani. seorang anak desa mulai bangkit dari pemukimannya yang asri. membawa segenggam beras untuk modalnya nanti. ya, niatnya untuk mengajarkan sang bocah sok pandai. aku.
perlahan ia mendekat, mulai memasak beras dan jadilah semangkuk nasi pulen. disuapinya perlahan, sembari menuangkan nasihat-nasihat kecil pada sang bocah. ya, segenggam beras bisa berguna bagi tubuh. lalu apakah dengan segenggam motivasi, dapat berguna bagi hidup? semua tergantung prosesnya.
karena aku tak pernah berusaha. mencari cara pun rasanya tidak. malahan berjalan ke arah sebaliknya.
wajar jika aku menangis.
karena semua orang tak pernah ku datangi. meminta sepatah katapun tak terpikirkan. bertumpu dikasur sembari merenung itu iya.
wajar jika aku kalah.
berlari ke garis finish pun tak pernah. menyusuri langkah-langkahnya pun sia. hanya dapat mengekor pada penolak takdir.
wajar jika aku susah.
mendengar petuahpun aku tutup telinga. diajak melompat aku malah merayap. tak ada kemudahan yang dapat diterima oleh seorang pengecut.
aku bocah enam belas usianya. belagu sekali sok bisa. berpura-pura dewasa, nyatanya tiada. tuan berkata, ikuti sang tua, melepas rehat menuju sang cita. hamba malah bersahaja diatas ranjang milik ibu-bapak.
aku membangkang pada tiap garis hidup, meloncati irama yang mulanya indah, membentuk melodi-melodi fals yang menyiksa pendengaran. aku bocah yang perangainya masih saja bocah.
hingga pada suatu masa, mentari terbit dihias alunan nyanyi burung dan suara embun yang jatuh ke lapak tani. seorang anak desa mulai bangkit dari pemukimannya yang asri. membawa segenggam beras untuk modalnya nanti. ya, niatnya untuk mengajarkan sang bocah sok pandai. aku.
perlahan ia mendekat, mulai memasak beras dan jadilah semangkuk nasi pulen. disuapinya perlahan, sembari menuangkan nasihat-nasihat kecil pada sang bocah. ya, segenggam beras bisa berguna bagi tubuh. lalu apakah dengan segenggam motivasi, dapat berguna bagi hidup? semua tergantung prosesnya.

Komentar
Posting Komentar