الدّعوة
Pertanyaan seorang teman di kala itu, membuatku berpikir keras. Memang benar, tidak mudah untuk menjadi seorang pendakwah. Jangankan pendakwah, untuk menjadi pengingat hal baik pun sangat sulit. Berbagai cemooh dan ocehan diterima, penolakan atas ajakan pasti mudah ditemui. Apalagi di era ini, dimana orang tak lagi mengerti mana yang baik dan buruk. Seolah yang haram menjadi halal, yang bathil menjadi haq. Zaman telah terbalik, teman.
Sejak dulu, aku bercita-bercita menjadi seseorang yang gunanya abadi, maksudnya, kehadiranku di dunia ini dapat menebar manfaat untuk orang lain.
"Bacit" katanya.
Memang tidak mudah untuk menjadi orang yang berguna, tapi setidaknya aku harus punya kontribusi dan usaha untuk mencapai keinginanku itu. Mulai dari hal kecil, namun konsisten.
Atas dasar kehendak Allah, keinginanku itu dapat terealisasi saat 2 Aliyah kemarin. Menjadi bidang Dakwah dan Ruhiyyah di oshk adalah suatu pengalaman besar yang dapat merubah kebiasaanku, aku dituntut untuk menjadi seorang yang pantas berada di bidang tersebut.
Alhamdulillah, betapa bahagianya bisa berbicara di depan banyak santri untuk memberikan 'tazkiroh' atau hanya sekedar 'wejangan' 5 menit.
Tentu banyak sekali respon orang yang ku terima.
Mulai dari,
"Yah ada tazkiroh,"
"Yaah keluar mesjidnya lama deh."
Dan ada yang parah nih,
"Ah mager dengernya."
Ya, itu adalah hal biasa teman. Selama apa yang kita sampaikan adalah ajakan kebaikan itu no problem. Dari sekian banyak orang, toh, banyak kok yang merespon,
"Eh itu kak hasna tazkiroh looh."
"Waah alhamdulillah dpt wejangan."
De el el. Hehehehe.
Biarkan mereka yang mencemooh, mungkin cara mereka menerima dan memahami materi berbeda. Semoga saja. Hehehe. Jadilah seorang da'i yang kuat, layaknya Rasullah SAW.
Sebenarnya teman, untuk menjadi seorang pengingat itu tidak harus menyandang status. Status hanyalah kesempatan lebih yang dimiliki, yang namanya kesempatan, tidak semua orang menggunakannya dengan baik, ada saja yang melewatinya begitu saja.
Kita, jadilah seorang pengingat dimanapun dan kapanpun.
“Teguh adalah nafas pejuang kebenaran sepanjang zaman mereka tidak hanyut di air, tak hangus di api dan tak melayang diudara, tak goyah oleh tumpukan harta, kemilau tahta dan rayuan dunia. kiprah mereka hanya satu tetap teguh dalam bergerak dan terus bergerak dalam keteguhan..”
(KH. Rahmat Abdullah)
Ada seorang temanku di pondok, dia adalah anak yang pendiam. Hal menarik yang aku lihat dari dirinya, ada sebuah buku kecil (semacam notes) yang selalu ia bawa. Karena aku kepo, aku pun bertanya padanya,
"Hey, buku yang kamu bawa2 itu apasih?"
"Hmm,aku hari ini." Jawabnya.
"Maksudnya?", tanyaku semakin heran.
Akhirnya dia pun memperlihatkan isi dari buku tersebut. Ternyataa, itu adalah target dia sehari-hari. Mungkin sekilas yang kita pahami, semacam 'hari ini belajar,' atau 'hari ini menghafal'. Namun, ini bukan.
Ok, ini sedikit gambaran yang ku ingat dari bukunya,
Lalu dia menjelaskan bahwa ini adalah target yang harus ia laksanakan setiap hari yang semakin meningkat dari minggu ke minggu. Ketika dia sudah melaksankan target minggu ke-1, maka di minggu ke-2 dia melaksankan target minggu 1 dan 2, kemudian di minggu ke-3 dia melaksanakan target minggu 1, 2, dan 3. Begitupun seterusnya.
Menarik ya? Kenapa demikian? Kenapa ga langsung aja ingetin macem2 tiap hari? Kan lebih banyak pahalanya?
Ini jawaban dia,
"Soalnya, orang takut euneuk Na diingetin kebanyakan tiap hari. Takut akunya dibilang cerewet, ntar pada gamau temenan sama aku."
Wah, masyaAllah ya luar biasa memang. Simple tapi bermakna. Karena dakwah memang tidak pernah mempersulit hidupmu, dakwah adalah wasilah agar hidupmu semakin berkah. Semakin kuat dirimu, semakin teguh hatimu, maka semakin Allah cinta kepadamu.
#Sesi tanya jawab
• Orang: Kenapa jadi bidang ruhiyah?
• Saya: Pusat pengendalian diri adalah rohani. Melihat peliknya zaman, maka rasanya pengendalian tersebut semakin min saja. Lantas ini menjadi usaha kita dalam meningkatkan ruhani diri-diri yang sudah kehilangan. Bergeraklah untuk menggerakkan orang-orant. Dunia nilainya NOL bila tidak dibersamakan dengan keperluan akhirat.
• Orang: Tiba-tiba pas udah ruhiyyah, jadi orang baik. Itu hijrah atau pencitraan?
• Saya: Hijrah dan pencitraan beda tipis. Tinggal gimana kita mengartikannya. Bisa jadi pencitraan adalah langkah awal untuk hijrah. Pencitraan adalah proses, maka hargai. Dan bagi pelakunya, segala perbuatan baik yang dilakukan karenaNya akan berimbaskan pahala, sedangan pujian dunia akan membutakan hati. Jujur, aku kurang sreg dengan kata pencitraan, jadi gantilah ia sebagai suatu proses hijrah.
Pertanyaaan aku buat sendiri😅✌
Yang mau bertanya silahkan hubungi nomer dibawah ini :D
.
.
.
.
.
.
Zonk. Cari ae nomernya sendiri😁
Silahkan kirim ke
Email: dakwatunhasna@gmail.com
@kamarku
19.06.19



Komentar
Posting Komentar