tentang santri
Dikisahkan oleh seorang pemudi, sebut saja, Ira.
Tahun ini Ira memasuki tahun keempatnya menjadi murid di salah satu pondok pesantren terkemuka. Pondok Pesantren Al-Hasanah.
Bahkan bukan hanya sekedar murid, melainkan seorang santri yang melakoni pembelajaran timur tengah. Ya, dalam pondok ini disuguhkan 3 pilihan program jurusan bagi murid yang sudah memasuki kelas 4 dan seterusnya.
Program apa saja kah?
-----
PK/Keagamaan- Program unggulan yang diunggulkan oleh pondok pesantren unggulan, dikhususkan bagi murid-murid yang unggul dalam keagaamaan. /ribet hehe/ jurusan ini terdiri dari 21 pelajaran, 6 diantaranya adalah peminatan, yaitu: Balaghoh, Faroidh, Ilmu Hadist, Ushul Fiqh, Ilmu Kalam, dan Ilmu Tafsir. Selain materi yang mendalam, disini juga dituntut agar memiliki hafalan quran lebih, kompeten, serta pribadi yang berakhlak luhur dan mulia. Mereka memiliki sebuah komunitas yang menjadi naungan bagi setiap santrinya, yaitu, Wihdatul Fatayat. Program ini mengarahkan para santri yang memilihnya untuk mengambil universitas islam, baik di luar negeri maupun dalam negeri. Mulai dari Univ.Al-Azhar, Mesir sampai Univ.Madinah, untuk yang di luar. Sementara Univ dalam yang diunggulkan adalah LIPIA. Santri-santri yang berada dalam jurusan ini rata-rata memiliki daya cepat menghafal, serta kritis dalam mendalami bahasa Arab. Tak lupa juga, sebab sholehah-sholehah, banyak dari santri akhwat ini yang laris setelah wisuda loh, hehe canda.
IPA- Sebuah program yang mendidik para peminatnya untuk mendalami ilmu-ilmu MIPA (Matematika-IPA), materi peminatannya ada Matematika peminatan, Fisika, Biologi, dan Kimia. Sementara itu, mereka tetap mempelajari materi wajib pondok, yaitu: Hadist, Tafisir, Fiqh, Adab, dan sebagainya. Begitupula dengan pelajaran umum, yaitu sejarah, bahasa, dan PKn. Santri-santri dalam naungan program IPA ini rata-rata memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghitung, serta memainkan logika. Mereka jarang sekali terlena dengan godaan, sebab mereka memegang teguh prinsp mereka. Bila tidak belajar, maka tak bisa. Ya, IPA merupakan program yang selalu saja tiap pelajarannya, terdapat tugas. Hm. Santri-santrinya sangat gigih, teliti, juga kompetitif. Universitas yang menjadi acuan mereka adalah, IPB, ITB, UGM, UNPAD, UI, bahkan juga universitas luar negri, yaitu Jerman, Malaysia, dan Turkiye. Tentu santri-santrinya sangat berkualitas bukan?
IPS/sosial-Yang menjadi pilihan santri-santri yang aktif, entah dalam lisan, gerak tubuh, ataupun pikiran. Materi khusus mereka adalah, Sejarah minat, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Santri dari jurusan ini rata-rata cakap dalam berbicara, mengemukakan pendapat, bersosialisasi, serta berpikir simple, dan flexible. Sosial menjadi kelas yang ter-jarang heningnya. Muncul pula jiwa-jiwa kepemimpinan dari santri program ini, sebab bila ada sesuatu mereka tak pernah ambil pusing. Ya, kelas yang selalu saja membuat orang-orang yang masuk kedalamnya ikut berkontrubisi dalam meramaikan kelas. Lulusannya banyakyang menjadi pembisnis, psikolog, hakim, PNS, diplomat, dan lain sebagainya. Universitas yang mereka tuju adalah, UGM, UPI, UNPAD, UI, bahkan luar negeri sekalipun, seperti Malaysia, dan Italia. Sungguh, jiwa-jiwa pemegang bangsa terlahir dari program sosial.
-----
Ira.
Cita-citaku ingin menjadi seorang ibu rumah tangga. Hm. Aneh ya? Tapi, itu dari lubuk hati terdalam. Aku hanya ingin memasak dan mengasuh anak di rumah. Serta memberi uang bulanan kepada orangtuaku. Aku ingin sekali bisa menjadikan keluargaku kelak, keluarga yang berlandaskan Islam seutuhnya. Aku ingin sholat bersama dengan imamku. Menyusun apa saja yang akan kita lakukan agar anak-anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang dirindu kehadirannya oleh bangsa dan agama.
Lalu, apakah aku punya impian yang lain?
Ya, aku punya. Bila ditanya, akan kujawab yakin. Aku ingin mendirikan sebuah lembaga pemerhati anak. Sebab aku miris bila melihat kondisi anak bahkan balita sekalipun, yang sudah tak mengerti lagi mana batasan sesuatu untuk seusianya. Tapi, itu semua aku lakukan semata-mata karena peduli, dan aku akan merekrut para pekerjanya. Kembali lagi. AKU HANYA INGIN DI RUMAH.
Ibuku selalu saja, menasehatiku, soal hidup. Hidup harus punya cita-cita nak. Kamu masih muda, kamu sekolah di pondok, toh masa cita-cita cuma jadi daun gugur doang. Tidak berguna. Ah. Padahal nyatanya ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling mulia. Kadang, orang yang bekerja di luar rumah, kondisi dalam rumahnya tak terperhati. Miris. Pikirku. Bagiku sebaik-baik pekerjaan adalah menjadi ibu yang baik. Ah. Rasanya tidak ingin kuliah. Kalaupun ada jurusan keibuan, pasti akan ku pilih jurusan itu.
Sudah memasuki tahun keempat di pondokku, semuanya telah memilih jurusannya masing-masing. Sementara aku? belum. Pikiranku masih diambang. Ada yang menyuruhku mengambil IPA, karena aku pandai berlogika, ada juga yang menyuruhku mengambil sosial, karena aku suka bersoisal, ada juga yang menyuruhku mengambil agama, karena aku cakap dalam berbahasa arab. Hm. Dari sekian banyak tawaran, tak ada yang dapat menggerakkan hatiku. Aku juga tidak tahu, dan tidak mau tahu, soal aku lebih dominan ke program mana. Yang jelas, hasil psikotes peminatan menyatakan bahwa kemampuan ku seimbang, sehingga aku bebas memilih jurusan manapun.
Waktu kian berlalu, tibalah hari pengumpulan data jurusan santri. Aku? Masih saja tak tahu menahu. Semua santri telah mengumpulkan, kini tinggal daku seorang. Tak akann ada yang menyadari ini. Ah, mengapa aku sulit sekali ya? Bukannya aku tak suka dengan ketiga jurusan itu, melainkan, apa langkah ku nanti? Andaikan bisa, cita-cita yang menghamipiri kita. Bukan kita yang menghampirinya. Huft. Ku rasa terjadi perang batin dalam diri ku. AH. Aku belum dewasa, bahkan diri ku saja belum bisa aku kuasai.
Sore itu, aku duduk di depan sebuah kamar yang terlihat sepi. Aku tahu, itu kamar anak kelas 5. Apa aku tidak malu? Tidak. Hidup itu mudah, cukup tidak peduli, maka semua bisa kau lakukan. Lagi-lagi. Kebiasaan yang mungkin sudah biasa aku lakukan, -diam dan termenung-. Di tengah renungan itu, seorang wanita yang mengenakan jas menghamipiriku,
“Ra? Sedang apa disini? Aku dari tadi mencarimu ke kamarmu, dan ternyata kau ada di kamarku sendiri. Ada apa, Ra?”, katanya seraya mengambil posisi duduk di sampingku.
“Tidak kak, aku numpang duduk ya. Hm. Kakak sendiri? Ada perlu apa mencariku?”, pertanyaan ku lontarkan kepadanya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Sulit menjelaskannya. Kamu ikut aku yuk, Ra !”, beliau menarik tanganku, wah, ada apa ini? Sepertinya menegangkan?
Tiba-tiba saja hatiku berdebar begitu hebat. Tepat di depan mataku. Seorang lelaki berperawakan tinggi dengan syal Palestin yang menjuntai dari lehernya itu telah menatapku. Oh, ku kira santri. Huft, syukurlah. Tapi,? Siapa dia? Hatiku kembali berdebar, itukah syekh muda yang dikabarkan akan datang sore ini? YATUHAN. Mengapa aku disini?
“Assalamu’alaikum. Afwan ana taakkhor ustadz. Hiya Irana Masya, stadz min fashl ‘aashir. Hiya mahiiroh fiillughotil ‘arobiyah shohihah. Wa turiidu an takallama ma’aka an musykilah fii filisthiinil aan. Tafadholi yaa Irana.” , Ka Aliya menepuk bahuku, matanya terkedip, pertanda aku harus melakukan sesuatu.
Tiba-tiba saja tangan ini terserang penyakit dingin. Dingin sekali. Bahkan es pun rasanya bila ku pegang, sama saja. Kepala yang tadinya berisi renungan-renungan kini mulai bekerja. Ternyata Ka Aliya mengajakku kesini untuk membantunya meng-interview seorang Syaikh dari Palestina. Yap, Ka Aliya merupakan seorang wartawan majalah pondok Al-Hasanah. Hari ini dia mendapat tugas tersebut, bersama kedua temannya. Berhubung mereka berdua berhalang hadir, maka Ka Aliya pun menarik aku sebagai juru bicara dalam interview ini. Sebab katanya, aku adalah orang yang paling mahir berbahasa arab sepanjang sejarah pondok. Ah, terkadang kemampuan yang kita miliki malah membuat kita sulit di saat-saat tertentu.
Satu jam interview telah terlewati. Kini saatnya kami pamit dengan Syaikh Abdul Hakim, nama aslinya sangat panjang. Namun, beliau mengenankan kami dengan panggilan tersebut.
“Wa fiil aakhiroh, syukron jaziilan ‘alaa waqtuka ustadz. Sanuriidu an narja’a ilassakaan. Wa tafadhol yaa ustadz, al mudiirul ma’had, ustadz purnama satandzuroka. Hal haadza shohiihah yaa ustadzii?”, kataku sambil mempersilahkannya menuju Ustadz Purnama, selaku mudir Ma’had Al-Hasanah.
Ustadz Purnama pun tersenyum kepada kami, mengisyaratkan ucapan terima kasih. Sebelum syaikh pergi, beliau bertanya padaku.
“Intadzir yaa thoolibaan. Irana, hal anti ashiliyatan minal ‘arobiyyah?”, Tanya syaikh.
“hehe. Laa. Laa ashliyyah. Jinsii anduunisi, ustadz. Limaadza?”, jawabku,
“Anti mahiiroh jiddan ya ukhtii. Lughotuki mumtaazah. Baarakallahu fiik.”, beliaupun pergi. Sambil memanggutkan kepalanya, kami pun balas memanggut.
Wah, hari ini hari yang luar biasa. Aku. IRA. Aku telah berhasil mewawancari seorang Syaikh yang asli datang dari Palestina.
-----
Hari ini berlalu begitu cepat. Jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Semua santri telah tertidur lelap. Dan aku belum. Aku seorang yang tak peduli keadaan tiba-tiba saja memikirkan sesuatu. Tentang masa depan. Perkataan syaikh tadi sore menyadarkanku, bahwa, aku telah hidup di ma’had ini selama 3 tahun lebih. Pantaskah aku belum tahu minat dan bakatku sendiri? Ku rasa tidak. Ternyata aku memiliki banyak potensi dalam berbahasa. Ah. Kemana saja aku ini? Sikap acuh tak acuh menutupi segalanya, dan menghambat masa depan yang seharusnya bisa ku susun rapi sejak dulu, seperti halnya teman-temanku yang lain.
Perlahan ku buka buku catatanku. Di halaman depannya ku selipkan kertas peminatan penjurusan yang tercantum batas pengumpulannya adalah tanggal 28 Agustus 2015, sementara sekarang sudah 2 hari setelahnya. Sial. Aku melewatkan hal penting. Dengan memantapkan hati, dan dengan penuh keyakinan aku pun melingkari opsi pertama, yaitu, keagamaan. Wah, inikah aku 3 tahun yang akan datang? Menjadi seorang ahli bahasa? Ataukah penerjemah? Atau bahkan guru bahasa? Ku rasa aku harus istikhoroh malam ini juga. Agar gelisah tak lagi ada. Bismillah.
-----
2 tahun pertama ku di program keagaaman terjalani dengan penuh rasa bahagia. Aku bangga menjadi santri PK. Di sini aku belajar mengenai hal-hal yang bahkan aku sendiri pun dahulu tidak memikirkannya. Sama sekali. Ada beberapa materi peminatan yang begitu aku sukai, salah satunya adalah, ilmu kalam. Ilmu yang mempelajari tentang keimanan kepada Allah, dan dalam materi ini kita dihadapkan dengan berbagai masalah aqidah, juga pertanyaan-pertanyaan yang menggoyahkan iman. Atau mungkin lebih dikenal dengan ilmu filsafat. Eits, tapi kami tidak mempelajari atau meyakininya, justru kami memecahkan jawaban-jawaban filsuf tersebut. Paham tidak? Hehe.
Aku dan teman-teman sepenjurusan sudah mulai menyusun rencana kemana kami akan melanjutkan studi setelah lulus dari pondok.
Ada yang ingin ke Al-Azhar, Mesir, kebanyakan memilih jurusan syari’ah. Ada yang ingin ke University of Africa, Sudan. Turkiye, Qatar, Jordan, dan lain sebagainya. Ada juga yang ingin SNMPTAI, ke UIN lah, IAIN, bahkan LIPIA Jakarta.
Aku lebih mencondongkan diriku ke Sudan, sebab katanya yang masih asli dan lekat dalam bahasa, serta ilmu-ilmunya adalah Sudan. Meskipun kondisi lingkungan disana yang tidak sebagus Turkiye dan lainnya. Karena ilmu adalah kunci, tanpa ilmu kita tak bisa berbuat, tanpa berbuat, kita tak bisa menghasilkan. Life is choice, so we must dare to choose.
----
Aku juga memiliki target yang lain. Yaitu menjadi seorang penghafal qur’an mutqin. Di pondokku ada sebuah program menghafal, yang targetnya tiap semester adalah, ziyadah 4 juz, dan muroja’ah 2 juz. Meski awalnya aku terhambat dalam menghafal, yang disebabkan karena faktor pelajaran dan organisasi. Namun hal-hal tersebut kini bisa aku atasi, tahun ini adalah tahun terakhirku ziyadah. Almarhumah guruku berkata,
“Ira. 2017, itu adalah deadline anti ziyadah. Usahakan anti khatam. Setelahnya anti fokus memuroja’ah dan memutqinkan. Ibu yakin, anti bisa menjadi assabiquunal awwalun santri yang hafizhah di angkatan. Tapi, ingat. Niatkan semua kembali pada Allah. Banggakan orangtua anti, Irana.” , Bu Shofa, adalah musyrifah tahfizhku yang 2 bulan lalu telah dipanggil oleh Allah menuju tempat tercintaNya. Beliau memiliki kesabaran tingkat tinggi, sudah hafizhah, dan belum menikah. Semoga saja beliau diberikan pasangan terbaik di syurgaNya kelak.
Menghafal itu tidak mudah. Diperlukan fokus yang lebih. Serta niat yang lurus. Biasanya orang yang menghafal tapi niatnya, karena semata-mata mendapat gelar, itu lebih memakan waktu yang lama, dibanding orang yang niatnya lurus, Lillahi Ta'ala. Tidak percaya? Silahkan buktikan.
Hafalanku sudah mencapai juz 23.
Aku selalu terbayang, apa yang akan terjadi bila aku sudah khatam. Apakah..
Astagfirullah ! Tidak baik berpikir demikian, kamu beramal karena Tuhanmu, bukan karena temanmu. Ya, terkadang bisikan syaitan mampir di benakku. Na'udzubillah.
"3 juz lagi, Ra. Kamu mau nyelsain kapan?!", teman-teman seperjuangan menghafalku selalu saja mengingatkanku, 5 juz lagi lah, 4 juz lagi, 3 juz lagi lah. Ah. Hal ini membuatku risau. Tapi merekalah yang selalu membuatku terpacu dalam mengahafal dan memuroja'ah. Ya, kami memiliki jadwal menghafal yang sudah kami susun sendiri. Jam 3 pagi, setelah sholat 5 waktu, dan sebelum tidur. Apabila diantara kami ada yang tidak menghafal di jam-jam tersebut, maka wajib dari kami untuk menegur dan memberi petuah. Lucu yah? Itulah, apabila kita menjalankan sesuatu bersama-sama maka akan lebih mudah.
----

Komentar
Posting Komentar