Nikmat Pagi
Pagi ini, aku berada di masjid Al-Husna 2, masjid pondok yang legendaris. Ku lihat samping kanan, kiri, depan, belakang, amat sepi. Mungkin hanya 4 atau 5 orang saja, itupun dalam kondisi terlelap dalam mimpi. Aku seorang kah? Ya, inilah kesempatan besar bagiku untuk memanfaatkan momen langka ini. Hitung-hitung saja, bila aku berdiam disini selam 2 atau 3 jam, sendirian, tanpa teman bercakap, bisa jadi aku bisa menghafal setengah juz. Tidak mungkin? Jelas mungkin. Allah selalu mempermudah hambaNya, yang berjihad di jalanNya.
Ya, masjid amat sepi. Hening. Kecuali sejam lalu, masih terdengar alunan ma'tsurat pagi yang dibacakan oleh anak Daruh lewat mikrofon. Setelah itu, masjid dibubarkan. Biasanya ada beberapa santri yang masih menetap untuk sekedar tilawah atau menghafal. Namun, mengapa pagi ini tidak ya?
Bismillah. Aku mengambil qur'an kecilku yang ku taruh di lemari, tepat di belakangku. Qur'anku, hanya sekedar Qur'an biasa, cover depannya sudah mulai terkoyak, beberapa halaman di dalamnya pun hampir terpisah dengan kesatuannya. Tidak terawat ya? Tapi, prinsip ku mengatakan, semakin rusak bentuknya, maka semakin sering aku menghafal. Parah? Iya. Sebenarnya, mau kita sering atau tidak memakainya, wajib senantiasa terjaga. Karena pada hakikatnya, qur'an adalah pedoman hidup. Kitab mulia yang diturunkan Allah melalui perantara malaikat Jibril berupa wahyu. Kemudian disampaikan kepada utusanNya, baginda Muhammad SAW-semoga Allah memberkahi. untuk disampaikan kepada ummat dunia. Maka, wajib bagi kita untuk mengimani dan senantiasa menjaganya. Mungkin aku harus mengubah main-set tersebut. Semakin sering aku menghafalnya, maka semakin apik dan terjagalah bentuknya.
Aku membuka kitab itu, terbuka tepat pada halaman 443. Ku baca secara fasih, dan dengan tanpa ku sadari, pipiku basah. Setetes air mata jatuh dengan lembutnya, menyentuh raga serta jiwa yang sedari dulu masih saja murka dengan ciptaanNya. dengan segala karuniaNya. Dusta dengan apa-apa yang telah Allah fasilitasi bagi makhlukNya.
Renungkan kedua makhluk ini, manusia akan selalu melihat sisi baik dan buruknya. Apabila bulan tidak menerangi bumi alangkah gelapnya suatu malam, dan jika muncul alangkah indah sinarnya. Bagaimana dengan matahari? Hal inipun sama, jika matahari menyinari dengan panasnya dan jika matahari tertutup oleh mendung. Manusia harus selalu bersyukur atas karunia yang di berikan oleh Allah SWT.
Hati manusia memang tidak pernah sempurna. Kadang ia meminta apa yang seharusnya tidak diminta. Kadang ia menolak apa yang seharusnya tidak ditolak. Semua telah Allah ciptakan sesuai dengan alurnya.
Namun, lagi-lagi. Kita, makhluk bodoh yang tidak bersyukur.
Manusia itu tempatnya egois.
Terkadang ia hanya memikirkan masalah dia, tanpa memikirkan sebab masalahnya.
Terkadang ia berkeluh atas ujiannya, tanpa bersyukur setelah mendapat solusinya.
Terkadang ia meminta lebih atas yang telah ia dapat, tanpa memanfaatkan apa yang berada di tangannya.
Aku menghapus air mataku, dan memberikan senyum pada kalamNya. Terima kasih ya Allah, karunia Mu begitu banyak dan hebat. Tuntun hamba agar senantiasa bertakwa, bersyukur, dan bersabar atas setiap apa yang terjadi di dunia ini.
Pagi ini, 6 Februari 2019, di masjid Al Husna 2. Aku merasa bahagia bisa berada dalam agama Islam. Subanallah, wal hamdulillah wa laa hawla wa laa quwwata illa billah
@rumahMu
06.02.2019
Ya, masjid amat sepi. Hening. Kecuali sejam lalu, masih terdengar alunan ma'tsurat pagi yang dibacakan oleh anak Daruh lewat mikrofon. Setelah itu, masjid dibubarkan. Biasanya ada beberapa santri yang masih menetap untuk sekedar tilawah atau menghafal. Namun, mengapa pagi ini tidak ya?
Bismillah. Aku mengambil qur'an kecilku yang ku taruh di lemari, tepat di belakangku. Qur'anku, hanya sekedar Qur'an biasa, cover depannya sudah mulai terkoyak, beberapa halaman di dalamnya pun hampir terpisah dengan kesatuannya. Tidak terawat ya? Tapi, prinsip ku mengatakan, semakin rusak bentuknya, maka semakin sering aku menghafal. Parah? Iya. Sebenarnya, mau kita sering atau tidak memakainya, wajib senantiasa terjaga. Karena pada hakikatnya, qur'an adalah pedoman hidup. Kitab mulia yang diturunkan Allah melalui perantara malaikat Jibril berupa wahyu. Kemudian disampaikan kepada utusanNya, baginda Muhammad SAW-semoga Allah memberkahi. untuk disampaikan kepada ummat dunia. Maka, wajib bagi kita untuk mengimani dan senantiasa menjaganya. Mungkin aku harus mengubah main-set tersebut. Semakin sering aku menghafalnya, maka semakin apik dan terjagalah bentuknya.
Aku membuka kitab itu, terbuka tepat pada halaman 443. Ku baca secara fasih, dan dengan tanpa ku sadari, pipiku basah. Setetes air mata jatuh dengan lembutnya, menyentuh raga serta jiwa yang sedari dulu masih saja murka dengan ciptaanNya. dengan segala karuniaNya. Dusta dengan apa-apa yang telah Allah fasilitasi bagi makhlukNya.
لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ [٣٦:٤
"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."
Renungkan kedua makhluk ini, manusia akan selalu melihat sisi baik dan buruknya. Apabila bulan tidak menerangi bumi alangkah gelapnya suatu malam, dan jika muncul alangkah indah sinarnya. Bagaimana dengan matahari? Hal inipun sama, jika matahari menyinari dengan panasnya dan jika matahari tertutup oleh mendung. Manusia harus selalu bersyukur atas karunia yang di berikan oleh Allah SWT.
Hati manusia memang tidak pernah sempurna. Kadang ia meminta apa yang seharusnya tidak diminta. Kadang ia menolak apa yang seharusnya tidak ditolak. Semua telah Allah ciptakan sesuai dengan alurnya.
Namun, lagi-lagi. Kita, makhluk bodoh yang tidak bersyukur.
Manusia itu tempatnya egois.
Terkadang ia hanya memikirkan masalah dia, tanpa memikirkan sebab masalahnya.
Terkadang ia berkeluh atas ujiannya, tanpa bersyukur setelah mendapat solusinya.
Terkadang ia meminta lebih atas yang telah ia dapat, tanpa memanfaatkan apa yang berada di tangannya.
Aku menghapus air mataku, dan memberikan senyum pada kalamNya. Terima kasih ya Allah, karunia Mu begitu banyak dan hebat. Tuntun hamba agar senantiasa bertakwa, bersyukur, dan bersabar atas setiap apa yang terjadi di dunia ini.
Pagi ini, 6 Februari 2019, di masjid Al Husna 2. Aku merasa bahagia bisa berada dalam agama Islam. Subanallah, wal hamdulillah wa laa hawla wa laa quwwata illa billah
@rumahMu
06.02.2019


Komentar
Posting Komentar