ia teman hidup
"Pokoknya kalau Bu Mila nyari aku, bilang aku ga ada"
"Ah, dasar Hasna. Mending kamu samperin deh."
"Sieun." Kataku sambil tercikik sedikit.
"Jangan sampai kamu sebut namaku, ya!", tegasku sambil aku berlari menuju tempat jajan.
Ya, bagiku bertemu dengan Bu Mila (nama samaran, nama guru takhossusku) di pekan-pekan akhir ini adalah suatu bencana besar. Bertemunya, akan ada banyak rasa. Antara rasa takut, sedih, canggung, dan yang terdalam adalah rasa bersalah.
Ah. Sebenarnya apasih sulitnya setoran quran? Apa? Toh, tinggal datang, kemudian duduk, dan setorkan. Menunda hanya akan membuat hati gundah gelanda,
batinku.
-Kelas 11 PK 6, waktu istirahat kedua.
"Ah, dasar Hasna. Mending kamu samperin deh."
"Sieun." Kataku sambil tercikik sedikit.
"Jangan sampai kamu sebut namaku, ya!", tegasku sambil aku berlari menuju tempat jajan.
Ya, bagiku bertemu dengan Bu Mila (nama samaran, nama guru takhossusku) di pekan-pekan akhir ini adalah suatu bencana besar. Bertemunya, akan ada banyak rasa. Antara rasa takut, sedih, canggung, dan yang terdalam adalah rasa bersalah.
Ah. Sebenarnya apasih sulitnya setoran quran? Apa? Toh, tinggal datang, kemudian duduk, dan setorkan. Menunda hanya akan membuat hati gundah gelanda,
batinku.
-Kelas 11 PK 6, waktu istirahat kedua.
"Aku tuh tetap ngafalin dan muroja'ah kok, Ran. Nanti kalau aku datang ke Bu Mila, aku bakal langsung setoran setengah juz. Sumpah daah.",
"Nah, Na, jadi apa bedanya dengan kamu datang tiap hari walau setor 1 halaman, toh nanti juga sepekan jadi setengah juz? Kamu kan juga setornya sepekan sekali kan, Na? Sama aja dong."
"Beda, Ran, beda. Susah ngejelasinnya. Aku juga punya kesibukan lain, Ran.".
"Ubah mind set kamu, Na.", Rania beranjak pergi, sepertinya dia kesal denganku.
-Mihrob Masjid Al-Husna, jeda antara Maghrib dan Isya
"Hasna, tips ngafal cepet dong. Aku lagi ngadet banget nih, udah 3 hari ga setoran.", kata Bila sambil menatap lekat mataku, dia berharap jawaban yang memuaskan mungkin ya.
"Bil.. Bil. 3 hari? Lah aku 1 minggu loh Bil. Kamu ga papa ga setoran, asal kamu tetap menghafal. Itu tandanya kamu menghafal karena Allah."
"Lah, Na. Kamu selama ini kayak gitu? Apa guru kamu ridho?"
"Ya, yang penting setor banyak hehe, aku yakin Bu Mila tetap senang"
"Ah, Na. Hati-hati. Guru-guru takossus kita tuh udah meluangkan waktu buat kita. Kasian, Na. Sama mereka. Aku aja ga enakan banget ni ga setor 3 hari."
-Kamar Ummu Hakim, menunggu waktu buka puasa
"Kita harus bisa ya, Na. Sebelum masuk 3 Aliyah, kita harus udah setorin 30 juz."
"Ayo. Pokoknya harus bisa. Bismillah, ya Bal. Ohiya, Bal. Sebenernya motivasi terbesar kamu pengen Hafizhah apa?", tanyaku sambil membulak-balik halaman quran yang akan ku setorkan.
"Sejujurnya sih ya, aku pengen hafizhah karena orangtuaku. Tapi, orangtuaku selalu bilang, 'Ummi ga memaksa kamu jadi penghafal Quran, Ummi hanya berharap kamu bisa hidup terus bersama Quran', gitu, Na."
Perkenalkan.
Aku, Hasna. Manusia yang penuh lupa dan khilaf. Terkadang hanya memikirkan kebutuhan dunia tanpa mengingat adanya kehidupan akhirat.
Sejak dulu, aku bercita-cita menjadi seorang penghafal Qur'an. Aku sangat mengagumi temanku yang juga bercita-cita menjadi penghafal Qur'an, aku selalu termotivasi setiap hafalannya lebih dariku. Hingga pada saat dia telah mengkhatamkan kalamNya.
Aku merasa kalah.
Padahal saat itu, hafalanku tak jauh beda dengannya. Namun, tetap saja.
Ini adalah kegagalanku dalam pertandingan. Aku merasakan perubahan yang terjadi pada diriku.
Hari-hari berlalu,
2 teman menghafalku di pondok kini sudah mengkhatamkan kalamNya pula. Aku tertunduk malu, dan merasa tertohok sekali. Lagi-lagi, aku kalah.
Tapi, hey. Apakah kekalahan ini karena diri sendiri? Apakah niat mempengaruhi sebuah amal?
Aku kembali membuka memori lama. Ketika niat awal menghafal adalah untuk menjadi juara dari orang yang ku kagumi, sehingga ketika dia telah berhasil menjadi juara, seakan semuanya telah berakhir.
Dan, hey.
Benar kata Rania teman kelasku, aku harus merubah mind-set bahwa Qur'an diprioritaskan setelah kesibukan. Sejatinya, Qur'an adalah menjadi prioritas utama jika disandingkan dengan kesibukan yang lain, termasuk organisasi. Semakin kita dekat dengan Qur'an, maka kesibukan dunia akan dipermudah dan menjadi berkah.
Benar kata Bila teman organisasiku, bukan tentang seberapa banyak kita setoran, namun tentang seberapa istiqomahkah kita setoran. Guru adalah mereka yang rela menyiapkan waktu untuk kita, membiarkannya sama saja dengan mendurhakainya. Dengan menyetorkan hafalan, kita bisa tahu letak kesalahan kita, kemudian kita perbaiki. Mereka adalah orang terpilih, seorang 'alim yang jelas lebih mumpuni ilmu Qur'annya dari kita yang masih belajar.
Benar kata Balqis teman kamarku, harapan ibunya adalah agar si anak senantiasa hidup bersama Qur'an, sehingga ketika kita telah menyelesaikannya, kita tidak akan terlepas. Sebab membersamai Qur'an adalah projek seumur hidup. Membacanya adalah perintah Allah, yang mempelajari dan mengajarkannya adalah sebaik-baik manusia, mentadabburi dan memaknai ayatnya adalah bukti cinta kita terhadap Qur'an. Membaca, menghafal, mentadabburi, dan mengamalkan adalah projek seorang Muslim seumur hidup. Qur'an adalah sumber dari segala ilmu dan petunjuk. Ketika kita jauh darinya, maka kau tak dapat memaknai hidup dengan utuh.
Terlelap.
Aku menarik selimut abu nan tebal, berharap hari esok menjadi hari yang indah dengan Qur'an. Merubah niat menjadi semata karena-Nya. Gelar hafizhah hanyalah sebatas motivasi, membanggakan orangtua adalah acuan agar aku tetap semangat, dan mengharapkan ridho dari Sang Illahi adalah tujuan utama.
قْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصَحَابِهِ
“Artinya : Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat”
***
Bahwa, akan ada hari setelah esok. Akan ada bangkit setelah jatuh.
Selagi masih ada waktu. Selagi masih ada cara untuk memperbaiki.
Siapkan asamu, luruskan niatmu, teguhkan hatimu.
Qur'an jalan hidup, gapailah ia, sertai dalam tiap nafasmu.
Sekelumit gundah akan hilang ditelan rindu terhadap kalam.
Bangkitlah, dirinya bisa karena telah berusaha, dirinya mampu karena yakin yang menggebu,
Sertailah langkahmu dengan Qur'an,
sebab perjuangan belum usai.
17.04.2019
@kamar3x4
@aku-yang-rindu-perubahan

Komentar
Posting Komentar