Buka pikiran yuk

banyak orang ingin menjadi lebih dari apa yang sudah dimilikinya. maksudnya, tak bersyukur. entah pada kelebihannya, ataupun kelebihan orang lain yang membuat rasa iri tumbuh melejit dan perlahan membentuk rasa dengki dalam jiwa.

anak kecil, balita bahkan, sudah paham dengan yang namanya "mau". lihat saja, serial anak upin-ipin, yang menunjukkan bahwa anak kecil pun sudah ingin ini-itu. masyaallah, betapa hebat kuasa Allah, menciptakan manusia sejak lahir dengan potensi ingin menggapai apa yang diinginkannya, bahasa baiknya mah, memiliki cita-cita.

Semakin tumbuh anak itu, maka pikirannya pun semakin terbuka. Mereka sudah paham dengan makna "berlomba", "ambisi", dan lain sebagainya. Yang tak asing lagi kita dengar, bila sudah memasuki masa persekolahan ataupun perkuliahan. Bukan hanya prestasi yang menjadi tolak ukur keeksisan/ kekerenan seorang remaja di masanya, namun kedudukan dalam sebuah organisasi amat sangat terpandang. Gengsi. Kata sinetron mah, "pacarnya ketua osis, ati2", dengan demikan terlihat jelas bahwa jabatan menjadi sangat terpandang. Hft, lantas bagaimana dengan orang yang tidak berada dalam lingkup tersebut? apakah mereka tidak memiliki hak dan peluang untuk disebut "orang keren" ? hey, kalau ingin memandang sesuatu, apalagi menilainya, tak cukup dari satu haluan. Coba kita menelaah dari berbagai macam haluan. Toh, Allah menciptakan dunia ini tidak hanya dengan 1 negara? ada lebih dari 50 negara di dunia. Berarti ada banyak pula haluan sudut pandang manusia.

***

hey, kalau ingin diceritakan sedikit saja. urang teh, sekolah di sekolah ternama kalau bisa dibilang mah. namnaya Husnul Khotimah, yang katanya unggul dalam bahasa dan tahfizhnya. bagaimana sih, sekolah ternama, berarti sudah otomatis siswa yang di dalamnya pun siswa pilihan, betul? ya, memang. biasanya pendaftar setiap tahun mencapai kurang lebih 1000 orang, kemudian disaring menjadi 400 orang. wah kan? jadi, bagi urang sendiri sudah alhamdulillah bisa sekolah di sekolah yang luar biasa untuk masuknya.

urang tumbuh di husnul, dengan penuh ketakutan. sangat ketakutan. bahkan tiap langkah yang urang tapakin, rasanya amat lama. mengapa? ya, karena rasa 'takut' itu mencekam dan sudah terdoktrin dalam diri urang.
jadi, entah mengapa, urang ga tau image orang ke urang pertama kali teh gimana. sampai-sampai urang mendapat amanah untuk menjadi seorang koordinator angkatan. kaget? ya, itu jelas sangat. bayangkan saja, seorang bocah 1 smp, awam, belum paham apa-apa dijatuhkan amanah yang ga kecil. tapi, yasudah, urang menjalankannya meskipun dengan rasa takut itu.
waktu kian berjalan, urang merasa nama urang 'udah terlanjur' baik di mata orang *astagfirullah dibaca dulu aja ya hehe ga maksud ko* gimana sih, ketika seseorang sudah dipilih biasanya orang-orang yang memilih itu sulit untuk melihat yang lain. sehingga terjadilah sistem 'lo lagi lo lagi'.
ya, urang juga sebenernya ga mau. tapi ya, udah skip. bagi urang semua ini adalah bencana yang bisa mengajarkan urang. iya, urang belajar banyak banget dari 'apa apa nya itu'

sampai pada suatu hari, seseorang mengajak ngobrol urang, "na, sadar ga? kayaknya kita kurang membuka pikiran.", trus urang nanya maksudnya apa, lantas dia pun menerangkan panjang lebar,
"iya, na. masa yang jadi lo lagi lo lagi sih. emang yang lain ga bagus apa gimana? gua juga tau na, lo sebenernya merasa lo biasa aja. ga ada apa-apanya. tapi gara-gara lo udah kepake dari 1 tsa, jadi kesananya lo kepake terus na."
ya, thats right. urang sadar, urang tuh biasa aja. biasa banget malah. serius. coba kalau orang lain, ditaruh di posisi urang, bisa jadi mereka bisa lebih dari gimana urang sekarang. lalu, urang pun nanya ke temen urang itu,
"bener banget. ane tau, pasti ada diantara temen2 kita yang ingin orang lain yang jadi. pasti ada aja yang ga suka sama ane. dan ga suka dengan posisi lo lagi lo lagi. jadi, gimana nih, menurut ente baiknya?"dan, terjadilah percakapan berat saat itu. setelah lumayan lama waktu, terambilah satu kesimpulan,
semua orang itu bisa menjadi orang hebat, dengan kunci, orang-orang mempercayainya dan diapun mempercayai dirinya sendiri.
di masa-masa itu juga, banyak dari teman-teman urang yang mulai menunjukkan passionnya mereka masing-masing. Mulai muncul wajah-wajah baru, nama-nama baru. Yang juara umumlah, tahfizhnya banyaklah, anak lomba, para ketua pelaksana sanlat konsulatnya, para ketua kelas, yang mahir bahasa, fotografer, ekstrak dan lain sebagainya. jiwa-jiwa kepemimpinan pun semakin terlihat banyak diantara orang banyak itu. mereka hanya perlu 'wadah'. bukan wadah mangkuk atau piring, melainkan wadah untuk mengekspresikan potensi dan bakat. apabila sudah berhasil menguasai wadah tersebut, maka mereka sudah mencapai tahap 'telah menemukan jati diri'. sehingga, tak sulit lagi untuk mencari "siapakah yang akan menjadi ketua ini, ketua itu,"

lanjut ke kisah urang. alhamdulillah, urang juga sudah menemuka jati diri urang. yang tidak selalu dalam posisi teratas, urang punya potensi dalam hal lain. di luar organisasi, urang suka menulis dan
menghafal. sekarang, alhamdulillah, banyak sekali orang yang jauh lebih hebat dari urang dalam konten memanage sebuah organisasi. Husnul Khotimah, adalah sekolah yang mencetak santri-santrinya berjiwa leadership maasya Allah.

***

Lantas, bagaimana dengan pertanyaan awal? "bagaimana dengan orang yang belum berada dalam lingkup organisasi? apakah mereka tidak memiliki hak dan peluang untuk disebut orang keren?"
kawan, masih banyak sekali hal-hal yang dapat membuat seseorang itu dibilang keren. Saat dia berhasil dalam menguasai bakatnya, maka dia hebat. Manusia diciptakan dengan potensi berbeda-beda, ada yang pandai akademik, organisasi, ekstrak, bahkan yang terpenting memiliki akhlak yang mulia.
Saat seseorang memiliki kekurangan, maka itu akan disempurnakan oleh kelebihan temannya. Sebagai contoh, seseorang akademisi berpikir ingin membuat sebuah event pelajar, maka yang akan merealisasikan / mewujudkannya adalah seorang organisatoris. Contoh selanjutnya, seorang organisatoris salah dalam memimpin sebuah jama'ah islam, maka yang akan mengingatkan dan membenarkannya adalah seorang agamis. dan masih banyak sekali contoh dalam keseharian yang dapat kita rasakan sendiri.

***

terakhir, urang ingin mengingatkan. Kita bisa menjadi seorang hebat, keren, sukses di dunia, tapi semua itu akan berkah bilamana kita menyertainya dengan akhlak yang mulia. Jauhkan rasa takabbur, rasa iri, suudzon, rasa bangga pada kemampuan sendiri. Segala kelebihan itu datangnya dari Allah, bisa saja, Allah marah sewaktu-waktu karena kita terlalu bangga pada diri dengan mencabut kelebihan itu.

Maasya Allah..

Komentar

Postingan Populer