Untuk Orang Yang Pernah Ku Fitnah

Untuk orang yang pernah ku fitnah..
Sungguh, kau tahu mulut ini bagaikan kayu bakar yang tak pernah berhenti terbakar.
Sungguh, kau tahu hati ini telah membusuk, terbaluti oleh aroma bangkai yang menyengat.
Sungguh, kau tahu tubuh ini senantiasa bergetar, mencoba untuk menyebut namaNya, namun sudah terbasuhi air dosa.
Sungguh, kau tahu jiwa ini menangis ketakutan, meringkik dan membolak-balik segalanya.
Sungguh, kau tahu lidah ini hitam kelam terpotong dan teriris-iris.
Sungguh, kau tahu hari-hari ini terhantui, digelayuti kata-kata yang terangkai menjadi sebuah dosa dunia, yang akan menghantarkan kaki menginjak naari jahannam.

Aku ucapkan itu, berulang kali, lidah yang sudah tak tahu arahnya kemana terbiasa melakukannya. Adakah godaan syaitan di sekitarku? Mereka membisikkan, menyuruh, dan memaksa mulut ini agar berdusta. Aku terbiasa. Aku dibiasakan. Aku biasa karena aku tak berpikir. Kau malu.. Kau terpuruk.. Kau teteskan air kesedihan yang membekaskan kekesalan padaku.
Aku merintih di sini, dalam kesendirian. Yaa Rabbi, ada apa dengan diri ini? Jiwaku hancur, kesucian yang harusnya terjaga, malah ternodai. Sebuah pikiran dalam benakku, hanya akan menjadi sebuah penyesalan. Aku tahu, mulut ini tak bisa dijaga. Mulut ini tak bisa berhenti berdosa. Mulut ini ember yang terisikan air keruh yang sudah berlubang.

Tapi, aku berjanji aku tak akan mengulanginya lagi. Aku perbaiki diriku, akan ku dekatkan diriku pada Illahi. Agar diriku senantiasa tenang, tidak melontarkan kata-kata karena sebuah kedengkian. 

Untuk orang yang pernah ku fitnah..
Kau marah padaku, aku merusak semuanya. Aku merusak rasa itu, rasa persahabatan yang amat dekat, kini sebaliknya. Merenggang. Sebuah ukhuwah, terhenti rajutannya. Rajutan itu belum selesai. Tapi aku malah menyelesaikannya dengan akhiran yang amat buruk. Kau sudah jauhi aku, kau tak mempercayai lagi aku. Apakah kau dendam padaku?
Afwan.. Afwan.. Afwan.. Hanya kata itu yang kini mulut lontarkan. Hanya satu kata yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan.

Telatkah aku? Aku yakin kau akan memaafkan kesalahan saudaranya sendiri. Aku yakin kau bukannlah orang yang memiliki karakter seperti yang aku fitnah padamu. Kau berhati mulia, kau memiliki tutur kata yang baik. Kau memiliki akhlak yang luhur. Asal kau tahu, hati ini benar-benar menyesal. Hati ini bagaikan siput, menjadi lambat dan tak tahu harus pergi kemana. Hati ini sudah terpaku, sulit untuk terlepaskan. Aku hanya bisa diam di sini, berdo'a pada Illahi, dan berharap kau menerima maaf ini.

Aku memohon padamu.. Mohon maafkan! Ataukah kau sudah memaafkanku, namun kau tak mau berteman denganku? Oh ku harap kau mau memaafkan, sebelum jiwa ini benar-benar mati. Sebelum seluruh tubuhku menjadi dingin dan memutih. Aku takut, jika hidupku berakhir dengan posisi yang teramat sulit juga buruk. Hanya karena satu perkataan saja. Aku mohon untuk menerima maafku, sebelum Allah menanyaku, dan mulutku tak bisa menjawab, hanya hati, tangan, dan kakk yang bisa bersaksi. Aku takut, jika pada akhirnya seluruh tubuh ini hangus dalam penjara api di akhirat kelak. Aku ingin mendapatkan syurgaNya, dan aku akan mendo'akanmu begitu.

Sungguh, kau adalah hamba Allah yang sholih. Maka hanya inilah yang aku harap. Semoga Allah mengampuni dosaku, juga dosamu.



Komentar

Postingan Populer