Taatnya Seorang Muslim
Aku masih ingat dengan peristiwa tannggal 7, Bulan February kemarin. Peristiwa yang terjadi di sebuah pasar kumuh nan kotor. Aku tahu, peristiwa itu sederhana namun bagiku luar biasa, bukan peristiwa penting tapi benar-benar mementingkan jiwa. Peristiwa yang seakan-akan membuat hati ku terpaku, seolah-olah menjadi peringatan bagiku. Dan ini akan ku ingat sampai akhir hayatku.
Saat itu, aku menemani ayah mencari masjid untuk sholat Jum'at di stasiun Pasar Senen Jkt. Waktu sholat jum'at tinggal beberapa menit lagi, sedangkan kami masih dalam kondisi mencari. Yap, memang sulit menemukan masjid di daerah situ, karena jaraknya jauh-jauh. Karena didalam stasiun hanya ada mushola, kami pun harus mencari ke daerah luar. Kata satpam jarak masjid sangat jauh dari stasiun, kalau mau, ada di dalam pasar. Di lantai paling atas ada masjid. Begitulah katanya.
Akhirnya kami pun dengan terpaksa harus menyusuri satu-satu wilayah pasar, karena tak tahu persis tempatnya. Jujur saja, saat masuk ke wilayah jual makan minum, aroma babi tercium sangaaaat tajam. Tadinya, sembari ayahku sholat jum'at, aku berniat ingin makan siang dulu. Tapi gagal rencanaku. Ternyata, para penjual makanan tersebut rata2 chinese, dan kristen. Hampir semua menggunakan daging babi. Benar-benar tak kusangka. Aku pun hanya membeli gorengan saja, yang sudah pasti halalnya. Huft memang sulit.
Aku pun ikut dengan ayahku ke masjid, kami sudah menemukan lantai paling atas. Lantai maks ini adalah lantai palinnnng kuootor menurutku, padahal di situ ada Rumah Allah, sangat disayangkan. Apa daya, mau tak mau harus sholat di situ. Aku menunggu di pojokan tempat orang berdagang, sementara ayahku mendengar khotbah jum'at. Di sinilah peristiwa yang membuat ku terharu. Aku benar-benar ingin meneteskan air mata dan ingin mengucapkan"Subahanallah.." . Ku lihat antusiasme para muslim lelaki untuk melaksanakan sholat jum'at walau dalam tempat yang seadanya. Di daerah sini islam itu minoritas. Masjidnya menurutku tergolong kecil, jadi banyak warga yang sholat di sela-sela kaki meja dagangan. Alat sholat merekapun kurang, seperti sejadah, ada yang harus menggunakan kardus untuk alas, ada yang menggunakan karung sebagai pengganti sejadahnya. Bahkan karena saking kecilnya tempat itu, mereka harus sholat benar-benar dempet sekali. Lantainya pun banyak yang becek. Tapi yang membuatku salut, saat sholat mereka sangat khusyuk dan khidmat, tak ada rasa kesal sama sekali. Ku yakin, bahwa Muslim Sejati adalah seperti mereka-mereka ini, dalam keadaan apapun, yang namanya kewajiban, perintah Allah, yaa tetap kewajiban, harus dijalankan.. Tak ada alasan untuk tidak menjalankannya.. Aku sangat kagum.. :) subhanallah..
Oya, teman, kalau kalian ingin melihat kondisi pasarnya, bisa lihat gambar diatas. Maaf, rada di blur -_-v hehe


Komentar
Posting Komentar