Sekolahku Untuk Masa Depanku
Tinggal beberapa bulan lagi aku akan meninggalkan Sekolah Dasar tuk menuju jenjang berikutnya.
Bulan Januari, pendaftaran siswa baru SMP/ sederajat rata-rata sudah mulai dibuka. Namun, aku masih cuek dan tak tahu ingin melanjutkan ke sekolah mana. Di sekolah, teman-teman sibuk membicarakan SMP mana yang akan mereka masuki. Teman-temanku juga sudah bulat dengan jawaban masing-masing. Sementara aku? Aku masih labil masalah pilihan jenjang sekolah selanjutnya.
Aku ingin mencari suasana baru, pengalaman baru, bukannya tidak suka dengan SMPIT Ummul Quro, sehingga aku tidak daftar UQ. Aku hanya ingin fokus ke syari'at agama dan tahfidz qur'an. Ku curahkan pada kedua orangtuaku kemana aku ingin fokus, akhirnya mereka pun memberi saran yang agak jarang sebetulnya, namun karena penasaran akhirnya aku turuti. Ayahku menawarkan aku untuk fokus tahfidz saja dulu. Maksudnya off sekolah se tahun, baru setelah hafal Qur'an lanjut ke SMP.
Akhirnya, selama liburan aku mencoba pesantren tahfidz yang dimaksud. Dan alhamdulillah, aku suka. Senangnya, saat itu akupun sudah punya jawaban ketika di tanya teman ingin masuk ke SMP mana. Namun, ketika aku menjawab, teman-teman malah menertawakan. Loh, kenapa mereka tidak suka? Padahal itu bagus? Apa salahnya? Akhirnya aku pun cuek saja atas tawaan mereka. Aku masih enjoy saja saat itu. Ternyata bukan hanya teman yang tak setuju, banyak dari kalangan yang tak setuju. Ku ceritakan problemku ke umi dan ayah. Setelah ku ceritakan, beliau pun perlu berpikir 2 kali untuk memasukan ku ke rumah tahfidz. Alasannya adalah, aku takut nanti hasil hafalan dari rumah tahfidz, sepadan dengan aku di pesantren tahfidz yang ada mata pelajarannya. Mulai saat itu, aku pun menolak.
Lagi-lagi, aku labil masalah SMP. Aku sempat berpikir untuk masuk ke Mts.Husnul Khotimah, Kuningan. Yang di mana sekolah itu fokus ke syari'at dan tahifdz, sesuai dengan tujuanku. Namun, entah mengapa saat itu aku kurang tertarik. Salah satu teman umi ku yang anaknya sekolah di salah satu pesantren di jawa timur, menceritakan tentang ponpes JaTim tsb. Karena ingin tahu, aku serius mendengarnya dan lagi-lagi aku tertarik. Saat itu aku mulai browsing seputar ponpes tersebut. Hingga pada saatnya keputusanku sudah bulat, survey ke TKP pun dilakukan. Usut punya usut, setelah aku survey, keputusan pun lagi-lagi berubah. Aku menolak kembali.
Sudah ku jalankan istikharah, karena jika bimbang istikharah dapat membantu. Kembali lagi seperti awal, aku bingung soal jenjang pendidikan selanjutnya. Pendaftaran sekolah boarding sudah mulai sejak Januari, dan saat itu sudah memasuki Februari. Pendaftaran SMP boarding unggulan hampir tutup. Gelisah, galau, resah menyelimuti hatiku. Hati ini terasa tak tahu apa-apa, seperti tak punya jiwa dan raga. Aku pun hanya dapat mengikuti kata hati.
Iseng-iseng ku buka web site ponpes Husnul Khotimah. Ku baca program-program di MTs tersebut. Sangat bagus visi dan misinya. Ku lihat alumni-alumninya, hasilnya subhanallah.. Itu lebih dari yang ku kira. Ilmu akademik, hafalan Qur'an, dan akhlaknya juga bagus-bagus. Di sana juga dilatih tuk fasih berbahasa inggris dan arab. Pilihanku jatuh kepada sekolah ini. Harapanku adalah semoga ini yang terbaik untukku.
Pendaftaran Husnul Khotimah hanya tinggal 1 pekan lagi. Terpaksa, akhirnya aku pun hanya bisa daftar melalui PSB online. Sehari sebelum tes masuk, aku sudah sampai di sana tuk registrasi ulang. Hingga pada hari di mana aku tes, hatiku setengah plong. Hasil tes akan diumumkan Maret awal kemarin. Alhamdulillah, tak terkata senang di hati namaku tercantum di daftar kelulusan. Sujud syukur kupanjatkan kepada yang Maha Kuasa. Hatiku sudah tenang. Setelah berliku-liku jalan ku lewati hanya untuk pilihan SMP. Berkat dukungan dari orang tua, saran dari guru dan teman-teman, akhirnya, inilah pilihan terakhirku, MTs.Husnul Khotimah. Sekarang, aku hanya perlu fokus ke Ujian Sekolah.
Bulan Januari, pendaftaran siswa baru SMP/ sederajat rata-rata sudah mulai dibuka. Namun, aku masih cuek dan tak tahu ingin melanjutkan ke sekolah mana. Di sekolah, teman-teman sibuk membicarakan SMP mana yang akan mereka masuki. Teman-temanku juga sudah bulat dengan jawaban masing-masing. Sementara aku? Aku masih labil masalah pilihan jenjang sekolah selanjutnya.
Aku ingin mencari suasana baru, pengalaman baru, bukannya tidak suka dengan SMPIT Ummul Quro, sehingga aku tidak daftar UQ. Aku hanya ingin fokus ke syari'at agama dan tahfidz qur'an. Ku curahkan pada kedua orangtuaku kemana aku ingin fokus, akhirnya mereka pun memberi saran yang agak jarang sebetulnya, namun karena penasaran akhirnya aku turuti. Ayahku menawarkan aku untuk fokus tahfidz saja dulu. Maksudnya off sekolah se tahun, baru setelah hafal Qur'an lanjut ke SMP.
Akhirnya, selama liburan aku mencoba pesantren tahfidz yang dimaksud. Dan alhamdulillah, aku suka. Senangnya, saat itu akupun sudah punya jawaban ketika di tanya teman ingin masuk ke SMP mana. Namun, ketika aku menjawab, teman-teman malah menertawakan. Loh, kenapa mereka tidak suka? Padahal itu bagus? Apa salahnya? Akhirnya aku pun cuek saja atas tawaan mereka. Aku masih enjoy saja saat itu. Ternyata bukan hanya teman yang tak setuju, banyak dari kalangan yang tak setuju. Ku ceritakan problemku ke umi dan ayah. Setelah ku ceritakan, beliau pun perlu berpikir 2 kali untuk memasukan ku ke rumah tahfidz. Alasannya adalah, aku takut nanti hasil hafalan dari rumah tahfidz, sepadan dengan aku di pesantren tahfidz yang ada mata pelajarannya. Mulai saat itu, aku pun menolak.
Lagi-lagi, aku labil masalah SMP. Aku sempat berpikir untuk masuk ke Mts.Husnul Khotimah, Kuningan. Yang di mana sekolah itu fokus ke syari'at dan tahifdz, sesuai dengan tujuanku. Namun, entah mengapa saat itu aku kurang tertarik. Salah satu teman umi ku yang anaknya sekolah di salah satu pesantren di jawa timur, menceritakan tentang ponpes JaTim tsb. Karena ingin tahu, aku serius mendengarnya dan lagi-lagi aku tertarik. Saat itu aku mulai browsing seputar ponpes tersebut. Hingga pada saatnya keputusanku sudah bulat, survey ke TKP pun dilakukan. Usut punya usut, setelah aku survey, keputusan pun lagi-lagi berubah. Aku menolak kembali.
Sudah ku jalankan istikharah, karena jika bimbang istikharah dapat membantu. Kembali lagi seperti awal, aku bingung soal jenjang pendidikan selanjutnya. Pendaftaran sekolah boarding sudah mulai sejak Januari, dan saat itu sudah memasuki Februari. Pendaftaran SMP boarding unggulan hampir tutup. Gelisah, galau, resah menyelimuti hatiku. Hati ini terasa tak tahu apa-apa, seperti tak punya jiwa dan raga. Aku pun hanya dapat mengikuti kata hati.
Iseng-iseng ku buka web site ponpes Husnul Khotimah. Ku baca program-program di MTs tersebut. Sangat bagus visi dan misinya. Ku lihat alumni-alumninya, hasilnya subhanallah.. Itu lebih dari yang ku kira. Ilmu akademik, hafalan Qur'an, dan akhlaknya juga bagus-bagus. Di sana juga dilatih tuk fasih berbahasa inggris dan arab. Pilihanku jatuh kepada sekolah ini. Harapanku adalah semoga ini yang terbaik untukku.
Pendaftaran Husnul Khotimah hanya tinggal 1 pekan lagi. Terpaksa, akhirnya aku pun hanya bisa daftar melalui PSB online. Sehari sebelum tes masuk, aku sudah sampai di sana tuk registrasi ulang. Hingga pada hari di mana aku tes, hatiku setengah plong. Hasil tes akan diumumkan Maret awal kemarin. Alhamdulillah, tak terkata senang di hati namaku tercantum di daftar kelulusan. Sujud syukur kupanjatkan kepada yang Maha Kuasa. Hatiku sudah tenang. Setelah berliku-liku jalan ku lewati hanya untuk pilihan SMP. Berkat dukungan dari orang tua, saran dari guru dan teman-teman, akhirnya, inilah pilihan terakhirku, MTs.Husnul Khotimah. Sekarang, aku hanya perlu fokus ke Ujian Sekolah.

Komentar
Posting Komentar