karena diam (2)



adaakala diam memang jalan terbaik, diam dari fananya dunia, diam dari jahatnya nafsu semata. aku suka diam, sebab ia mengajakku berpikir, bermuhasabah diri, berjanji untuk menjadi baik di kemudian hari.

tapi, apakah diam selamanya baik? ternyata tidak. diam tanpa bicara hanya membuat orang lain bertanya-tanya, merasa dirinya telah bersalah. membuat suasana keruh tanpa suara, dingin karena pikirnya padahal ia salah kira.

permusuhan timbul sebab saling diam. lalu jengkel, dan tumbuh rasa benci. tanpa ada satu pihak yang hendak mengklarifikasi apa nian yang terjadi.

lantas, diam seperti apa yang semestinya kita hadirkan?
yap, diam tatkala intropeksi dan evaluasi diri jua hati. TIDAK saat kamu bersama orang lain. masalahmu untukmu, bukan mereka.

tapi, bagaimana jika masalah itu merubah pola tingkah kita saat berinteraksi dalam artian bersikap diam dan dingin di depan orang lain, orang sekitar kita?

coba tanyakan pada dirimu,

aku punya masalah, mereka pun pasti punya masalah. masalah aku ditambah masalah mereka, mau jadi apa?

mungkin kita merasa lega saat mengekspresikan apa yang kita rasa kepada orang sekitar. merasa merdeka saat mereka merasakan apa yang kita rasa.

tapi, eits

ternyata memikirkan masalah orang lain memiliki daya tarik 2x lebih kuat dan 2x lebih berat dibanding memikirkan masalah sendiri.

DIAM mu adalah suasana hatimu.
DIAM mu cermin dari sifatmu.

yang jelas, senyum di depan akan mengikis perlahan beban-beban di belakangmu.

menjadi orang menyenangkan, pasti disenangi, menjadi orang membebankan, pasti akan dibebani (lagi).

Komentar

Postingan Populer