Sebongkah Hati
Hai, hati kecil. Mengapa kau
begitu rumit untuk aku mengerti?
Tak bisakah kau berbagi
sedikit kisah tentang rasa kau kini?
Hai, hati yang tahu tentang
rasa yang terpendam.
Sebegitu dalam kah telah kau
susuri tapak cinta ini?
Yang tak tahu dan tak jelas
arahnya nanti.
Hai, hati bimbang yang tinggi
terbang, kepakan sayapmu terlalu cepat bagiku.
Ia terlalu muda untuk kau
kepakan. Sehingga bila kau bertemu badai atau apapun itu,
kau akan jatuh. Dan merasa
sakit.
Lalu sulit bagimu untuk
bangkit kembali. Sampai sayapmu itu pulih.
Hai, ruang hati yang sedang
terbuka. Terlalu baik rasanya bila kau menampung tamu yang datang tiba-tiba.
Tak jelas asal dan maunya.
Sehingga bila ia telah lama
bersamamu, ia merebut segalanya.
Kesenangan serta kepuasan
semata. Diambil tanpa kau sadar.
Dan kau?
Hanya bisa tertunduk dan
merasakan perih. Lagi.
Ia mencuri tanpa bisa
mengembalikan semuanya.
Hai, hati yang sedang
bergejolak.
Tahanlah. Jangan mudah
terpancing terhadap sesuatu yang indah dalam pandang saja.
Jangan mau diperbudak oleh
nafsu yang memain-mainkan perasaan.
Karena mereka perlahan akan
merusak pikiran.
Dan bisa saja mengganggu
masa depan. Yang seharusnya bisa kau rajut menjadi sebuah kesuksesan.
Hai, hati yang perlahan
mengerti.
Bila ada yang mengetukmu,
lagi. Katakanlah padanya,
Wahai tamu yang mulia, apa
jaminanmu menginap di ruang hati ini. Aku butuh jawaban. Ya, jawaban yang
berupa kepastian. Bukan gombalan yang memuakkan.

Komentar
Posting Komentar